Selasa, 04 November 2014

Tips Pendidik Majalah Anak Sholih edisi 12 tahun 4



Mengenal Gaya Belajar

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan TuhanMu lah yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantara kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al-Alaq 1-5).
Surat Al-Alaq ayat 1-5 ini mengingatkan penulis dengan sebuah proses memperoleh informasi yang dalam pandangan Psikologi Pendidikan disebut dengan gaya belajar. Gaya belajar itu terdiri dari 3 jenis, menurut modalitasnya yaitu visual, audio dan kinestetik.
Suatu hari penulis bertemu dengan seorang teman, karena sudah lama tak berjumpa kami mengobrol hingga pada satu topik pembicaraan mengenai anak sulungnya. Dia bercerita bahwa anak sulungnya sangat sulit belajar dengan cara duduk manis, bahkan dengan kartu kosa kata pun anaknya tersebut nampak tidak tertarik. Lalu bagaimana sikap orangtua dan pendidik jika dihadapkan dengan kasus-kasus serupa tersebut? Dan apakah bentuk gaya belajar anak didik kita?.
Menurut Deporter dan Hernacki (2002) gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, dan mengolah informasi. Jika dikaitkan dengan permasalahan di atas, maka pertanyaan yang bisa lahir adalah: bagaimana seorang anak dapat menyerap dan mengolah informasi dengan baik, di sekolah maupun di rumah.
Langkah  pertama yang perlu diketahui orangtua atau pendidik ialah tipe atau gaya belajar setiap anak yang unik dan berbeda. Setiap anak dengan anak yang lain tidak sama. Mereka mempunyai kesukaan dan kebiasaan serta zona aman yang berbeda. Ada anak yang dapat belajar dengan duduk manis sambil memperhatikan gurunya, ada juga anak yang belajar sambil menggerak-gerakkan kakinya dan bahkan ada anak yang bisa belajar sambil mengerjakan hal lainnya dalam waktu bersamaan. 
Pada dasarnya Al-Quran sudah lebih dulu menjelaskan tentang gaya belajar ini. Seperti pada Surat Al-Alaq 1-5 tersebut di atas, dimana ayat dalam surat tersebut menjelaskan tentang gaya belajar visual.
Gaya belajar visual sendiri ialah cara memperoleh informasi dengan menitik beratkan pada ketajaman penglihatan. Artinya bukti-bukti konkret harus diperlihatkan agar mereka faham. Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian baru bisa mempercayainya.
Selanjutnya, bagaimanakah cara dan langkah untuk menentukan atau mengetahui masing-masing gaya belajar setiap anak?. Langkah-langkah tersebut antara lain adalah:
  1. Perhatikan Kebiasaan Anak
Setiap anak mempunyai kebiasaan dan kesukaan yang berbeda ketika belajar bersama orangtuanya. Kita sebagai orangtua dianjurkan memperhatikan kebiasaan anak ketika belajar. Kebiasaan apakah yang sering dilakukannya dan kebiasaan manakah yang memudahkannya untuk menerima informasi dengan baik. Contoh: jika seorang anak sulit memahami ucapan dan dia mudah menangkap pelajaran jika belajar dengan menggunakan alat peraga, maka belajar dengan menggunakan alat peraga berupa puzzle akan sangat bermanfaat.  
  1. Sediakan stimulus
Kita tidak akan pernah mengetahui bentuk gaya belajar anak tanpa kita sediakan stimulus di hadapannya. Stimulus tersebut bisa berupa alat peraga, atau kita sendiri sebagai pendidik yang menjadi stimulusnya.
  1. Evaluasi
Setelah kita mengobservasi dan memberikan stimulus kepada anak, maka selanjutnya kita harus memberikan evaluasi terutama dalam hasil belajarnya. Dari hal itu, dapat kita simpulkan gaya belajar yang muncul dan menonjol pada anak.   
Gaya belajar itu hanya sebagai metode untuk memperoleh informasi, dengan tujuan agar proses belajar dapat terlaksana dengan baik. Wallahu Ta’ala A’alam.

Kamis, 30 Oktober 2014

Keunikan Karakter

Seorang teman bercerita, bahwa ia mendapati perbedaan watak antara anak yang pertama (berusia 5 tahun) dan anak yang kedua (berusia 3 tahun). Hal tersebut terlihat sekali ketika pengalaman unik mereka dijadikan bahan atau tema obrolan di tengah keluarga. Yang membuat ia bingung ialah sikap dari anak pertama, dimana apabila pengalamannya diceritakan di tengah keluarga, sikapnya seperti kecewa dan marah. Berbeda jauh dengan anak yang kedua. Apabila pengalaman uniknya diceritakan sebagai bahan obrolan di tengah keluarga, adiknya tersebut hanya tersenyum dan tertawa. Lalu apakah salah jika anak pertama dalam kasus di atas bersikap demikian? Dan apa yang seharusnya orangtua lakukan jika dihadapkan pada hal tersebut?.
Pada dasarnya perbedaan karakter tersebut bukanlah merupakan suatu kesalahan, melainkan suatu keunikan yang telah Allah Ta’ala ciptakan dalam diri manusia, sekalipun manusia itu anak kembar sekalipun.
Berkaitan dengan hal di atas, sebuah kasus yang menceritakan sikap kakak yang terkesan berbeda dengan sikap adik dalam menghadapi suatu masalah, dimana hal itu membuat orangtuanya bingung dan bertanya-tanya, akankah sikap kakak tersebut bisa diubah ataukah tidak?.
Hal yang mendasar dan perlu diingat bagi setiap orangtua adalah berfikir bukan pada bagaimana menghilangkan perbedaan sikap itu, namun bagaimana orang tua mengarahkan perbedaan yang ada. Jika hal tersebut terjadi kepada kita sebagai orangtua, sebaiknya kita memperhatikan hal-hal berikut:
  1. Anak Bagai Kertas Putih
Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia dalam keadaan suci dan orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Islam, Yahudi maupun Majusi. Begitu pula dengan teori dalam Psikologi yang menjelaskan bahwa anak yang dilahirkan ke dunia ini bagai kertas putih, orangtuanya maupun lingkungannyalah yang mewarnainya dengan warna yang berbeda. 
  1. Setiap Anak Itu Unik
Warna berbeda yang orangtua maupun lingkungan berikan pada anak melalui proses meniru dan pembelajaran, merupakan hasil warna yang berbeda dan unik. Jadi hal tersebut sudah selayaknya diketahui oleh setiap orangtua, bahwa perbedaan itu bagian dari kewajaran selama hal tersebut tidak keluar dari syariat-syariat Islam.
  1. Pengarahan
Memarahi bukan jalan terbaik untuk merubah sikap anak yang terlihat berbeda.       Memberikan pengarahan dengan kasih sayang merupakan cara terbaik             agar anak terhindar dari sikap-sikap yang tidak diinginkan.
            “Barangsiapa yang tidak punya rasa belas kasihan, niscaya tidak akan dikasihani”            (HR.Bukhari)
Kesimpulannya, bahwa karakter yang berbeda dan tercipta pada diri seorang anak itu berasal dari turunan orang-tua dan juga hasil dari proses pembelajaran yang didapatkannya dari lingkungan sekitar.

E-Book Anak Musim Dua Bahasa Arab- Inggris

Deskripsi :
Bagian Yang bisa di baca dengan Pen Dua Bahasa
1.Belajar Huruf Hijaiyah dan Alfabeth di sertai Bacaan dalam Arab dan Inggris
2.Belajar Mengenal Nama Kendaraan
3.Belajar Mengenal nama buah dan sayur
4.Belajar mengenal nama nama hewan
5.Belajar mengenal angka
6.Belajar mengenal warna
7.Belajar mengenal benda dalam rumah
8.Belajar cara berwudhu dan cara sholat yang benar
9.Bacaan sholat dari Takbir sampai –salam
10. 16 Bacaan doa sehari hari +
• Asmaul Husnah


• Juz amma
Fitur pembelajaran pendampingan Orang Tua
1.Iqro , Belajar cara baca dengan cara mengucapannya
2. Taman Anak
3.Kebun Binatang
4. Menghitung jumlah buah dan sayur
5.Belajar penjumlahan dan pengurangan
6. Belajar menggambar dan mewarnai
8. Belajar nama nama jenis olah raga
9. Belajar mengenal Bendera Dunia
10.Belajar Mengenal urutan Pelaksanaan haji dan umroh
11. Gambar Masjid megah di beberapa negara
Ukuran 30 X 30 CM Berat 700 gram , Menggunakan Batre AA X 3PCS

About

Flickr

Popular Posts

Live streaming